Penggunaan Geotextile dalam Penanganan Stabilitas Lereng

Penggunaan Geotextil dalam Penanganan Stabilitas Lereng
Gambar oleh Thomas B di Pixabay

Geotekstil merupakan sebuah material yang dibuat dari bahan tekstil polymeric yang bersifat lolos air atau water resistance.  Klasifikasi geotekstil sendiri memiliki ada yang dalam bentuk bahan nir-anyam (non woven), rajutan ataupun anyaman (woven) yang dapat digunakan dalam kotak dengan tanah atau material lain dalam aplikasi teknik sipil salah satunya yaitu penanganan stabilitas lereng.

Fungsi Geotextile dalam Penerapannya di Suatu Proyek

Penggunaan geotextile biasanya digunakan pada lokasi dengan tanah yang rawan akan erosi atau pengikisan permukaan. Terdapat banyak alasan dalam menggunakan dan memilih geotextile daripada bahan yang lainnya. Berikut adalah contoh kasus penggunaan geotextile pada suatu proyek.

1. Geotextile dalam Timbunan Tanah

Secara umum fungsi dari geotextile ini yaitu digunakan untuk penguatan tanah lunak sendiri. Geotextile termasuk ke dalam bahan konstruksi dengan rancangan penggunaan jangka panjang karena memiliki kekuatan konstruksi yang bisa menahan beban besar. Geotextile juga dapat digunakan sebagai filter, pemisah pengairan ataupun pelindung.

Dalam kasus timbunan tanah, geotextile dapat dimanfaatkan sebagai perkuatan timbunan tanah seperti pada kasus timbunan tanah diatas tanah lunak, timbunan di atas pondasi tiang dan pada tanah yang rawan subsidence.

2. Geotextile dalam Struktur Dinding Penahan Tanah

Geotextile dapat digunakan sebagai lapisan tambahan dalam lapisan tanah dan sering digunakan untuk mengatasi masalah struktur penahan tanah. Cara ini dapat memberikan peningkatan kemampuan dalam menahan beban yang cukup besar.

3. Geotextile dalam Penanganan Longsor

Salah satu pengaplikasian geotextile yaitu sebagai penahan longsor. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa penanggulangan longsor dengan menggunakan bahan geosintetik atau menggunakan geotextile pada ruas jalan maupun lereng gunung yang landau.

Hal ini dapat digunakan sebagai penguat timbunan jalan. Fungsi dalam penanganan longsor yaitu sebagai separator, penguat tanah dasar, penguat lereng maupun penguatan bahu jalan.

4. Geotextile Digunakan untuk Lapisan Kawat Bronjong

Geotextile juga sering digunakan dalam lapisan kawat bronjong. Hal ini bertujuan untuk dinding bronjong yang dibuat semakin kuat untuk mencegah erosi jika dipasang dekat aliran air.

5. Geobag Digunakan untuk Mencegah Abrasi Pantai

Geotextile dirancang sedemikian rupa agar dapat terbentuk kantung-kantung yang didalamnya siap diisi dengan pasir. Produk seperti ini disebut dengan geobag atau sandbag. Bahan utama dari geobag ini yaitu geotextile non woven.

Geotekstil yang sering digunakan dalam bidang teknik yaitu geotekstil dengan jenis woven. Sebenarnya geotekstil memiliki dua jenis yaitu woven dan non woven. Berikut adalah perbedaan dari kedua geotekstil tersebut.


  • Geotekstil Woven

Geotekstil dengan tipe ini merupakan geotekstil dengan bentuk yang teranyam. Bahan dasar dalam pembuatannya yaitu dari polypropylene (PP). dalam memudahkan visualisasi, geotextile jenis iini memiliki kemiripan dengan karung beras (bukan yang terbuat dari jenis goni) melainkan berwarna hitam.

Fungsi dari geotekstil ini sendiri yaitu digunakan sebagai bahan stabilisasi tanah dasar (terutama pada tanah dasar yang lunak), karena geotekstil jenis ini memiliki tensile strength (kuat tarik) yang lebih tinggi dibandingkan dengan geotextile dengan jenis non woven (memiliki ukuran 2 kali lipat untuk gramasi atau berat permeter persegi yang sama.

  • Geotekstil Non Woven

Untuk geotextile non woven, memiliki bentuk teranyam yang sebaliknya dari geotekstil woven yang berbentuk seperti karpet kain. Bahan dasar pembuatannya biasanya menggunakan bahan polimer Polyesther (PET) atau Polypropylene (PP).

Fungsi dari geotekstil woven ini sendiri yaitu membrane effect, yang hanya menggunakan dan mengandalkan tensil strength. Sehingga tidak dapat mereduksi terjadinya penurunan setempat (differensial settlement) akibat tanah dasar yang lunak ataupun kurang baik. Itulah beberapa perbedaan geotextile woven dan non woven.


Faktor yang Mempengaruhi  dan Cara Penanganan Stabilitas Lereng

Penggunaan Geotextil dalam Penanganan Stabilitas Lereng
source image: pandu-equator.com

Gerakan tanah merupakan sebuah gerakan yang menuruni lereng oleh massa tanah dan batuan penyusun lereng akibat terganggunya kestabilan tanah. Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi dalam menangani stabilitas lereng antara lain.

  • Jenis dan keadaan lapisan tanah atau batuan yang membentuk lereng.
  • Bentuk geometris penampang lereng (seperti tinggi dan kemiringan lereng).
  • Penambahan kadar air pada tanah (seperti terdapat rembesan air atau infiltrasi hujan).
  • Berat dan distribusi beban.
  • Getaran.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kestabilan lereng ini dapat menghasilkan tegangan geser pada seluruh massa tanah dan suatu gerakan akan terjadi kecuali dengan tahanan geser pada setiap permukaan runtuh yang mungkin terjadi lebih besar dari tegangan geser yang bekerja.

Dalam mengurangi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kestabilan lereng, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk penanganan stabilitas lereng menyebabkan terjadinya kelongsoran adalah sebagai berikut.

a.) Memperkecil gaya penggerak atau momen penyebab terjadinya longsor. Gaya atau momen penyebab terjadinya longsor dapat diperkecil dengan cara mengubah bentuk lereng seperti sebagai berikut.

  • Mengubah lereng lebih datar atau memperkecil sudut kemiringannya.
  • Memperkecil ketinggian lereng.
  • Mengubah lereng menjadi lereng bertingkat (multi slope).

b.) Memperbesar gaya lawan atau momen penahan terjadinya longsor. Gaya lawan atau momen penahan terjadinya longsor dapat diperbesar dengan beberapa cara sebagai berikut.

  • Menggunakan counter weigth sebagai tanah timbunan pada kaki lereng. Cara ini mudah untuk dilaksanakannya asalkan berada di kaki lereng untuk tanah timbunan tersebut.
  • Mengurangi air pori yang ada di dalam lereng.
  • Secara mekanis yaitu dengan memasang tiang penahan tanah.

Baca juga: Penggunaan Geotextile Woven

Perancangan perbaikan lereng dengan cara pemasangan geotextile dan beronjong adalah sebagai berikut tahapan-tahapannya.

  1. Memperhitungkan tekanan tanah aktif lereng yang dihitung menggunakan koefisien tekanan tanah aktif.
  2. Memperhitungkan tegangan tarik izin geotekstil, mempertimbangkan kerusakan pemasangan, rangkak dan faktor reduksi dengan proses kimia dan biologi juga.
  3. Memperhitungkan jarak vertikal geotekstil.
  4. Memperhitungkan panjang tekstil, seperti perancangan perbaikan lereng akibat longsoran, panjang geotekstil dihitung di belakang garis keruntuhan dengan panjang minimal 1 meter.
  5. Memperhitungkan panjang lipatan dengan mempertimbangkan panjang minimanya yaitu 1 meter.
  6. Memperhitungkan stabilitas eksternal yang meliputi stabilitas giling, geser, dan daya dukung. Untuk langkah terakhirnya yaitu merupakan analisis paling penting yaitu mengontrol stabilitas secara keseluruhan.

Pada langkah ini, beronjong dapat digunakan tidak hanya sebagai pelindung geotesktil dari sinar matahari dan proses aliran air permukaan, akan tetapi juga dapat digunakan sebagai peningkatan faktor keamanan.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan geotekstil selain dapat digunakan dalam penanganan stabilitas lereng, dapat digunakan dalam pengerjaan proyek seperti.

  1. Digunakan dalam Timbunan Tanah
  2. Digunakan dalam Struktur Dinding Penahan Tanah
  3. Digunakan dalam Penanganan Longsor
  4. Digunakan untuk Lapisan Kawat Bronjong
  5. Digunakan untuk Mencegah Abrasi Pantai

Selain itu, geotekstil yang digunakan juga memiliki dua jenis geotextile berdasarkan bentuknya yaitu geotekstil woven dan geotekstil non woven.

Semoga dengan adanya ulasan ini dapat membantu Anda dalam memahami penggunaan geotekstil untuk penanganan stabilitas lereng pada bidang teknik dan semoga bermanfaat.